Pulang snorkeling kami beristirahat lagi di penginapan. Badan saya masih agak gak enak untuk diajak bermain lagi menikmati pulau. Jadi saya menyita waktu 1 jam untuk tidur dulu. Setelah badan agak fit, sorenya kami bermain sepeda menuju salah satu objek wisata yang paling terkenal di pulau ini yaitu Jembatan Cinta.
Saya terpaksa dibonceng adik karena jumlah sepeda yang terbatas. Kami menyusuri jalanan menuju jembatan sambil merasakan semilir angin pantai yang lumayan bikin menggigil. Saya juga harus menahan pegelnya kaki sebagai yang dibonceng.Sampai di areal jembatan, sudah banyak orang yang menikmati keindahan sore dengan bermain air dan berfoto-foto. Kami memarkir sepeda lalu berjalan-jalan sebentar di sekitar pantai. Setelah puas melihat-lihat pemandangan, kami berfoto-foto trus menikmati jagung bakar dan es kelapa muda. Slurphhh.. Satu buah jagung bakar harganya Rp8.000,00. Es kelapa satu buah harganya juga sekitar Rp8.000,00
Sudah kenyang dan langit sudah mulai gelap menjelang maghrib..alhamdulillah, mari bersepeda lagi menuju penginapan.
Barbeque?!?!
Salah satu agenda di tur adalah barbeque-an dipinggir pantai. Hmmm...ini nih yang saya tunggu-tunggu. Saya bahkan sudah bilang ke teman-teman kalau saya akan memilih cumi bakar sebagai menu barbeque-an malam itu. Haha.. :D
Lama menunggu, setengah mengantuk jam 21.00 kami pergi menuju lokasi acara. Jrenggggg!!! Krik-krik.. -_- ternyata menunya udah duluan dibakarin oleh guide tur kami dan teman-temannya. Menunya tau gak apa? Ikan-ikan laut seukuran ikan gembong. Haha.. Entah itu ikan apa aja namanya.. Teman-teman sepertinya gak selera setelah melihat yang disajikan. Hanya beberapa orang saja yang mau mencicipi ikan bakar tersebut. Saya sendiri sebenarnya agak kecewa karena dalam bayangan saya barbeque-an mah bukan gini. Heuheu.. Tapi tetap saja saya menikmati menu itu biar gak tambah ngenesss..xixi..
Kami lalu berfoto-foto dengan penerangan seadanya di pinggir pantai itu. Dan tak lama kami memutuskan untuk menghabiskan malam pergantian tahun itu dengan beristirahat saja di penginapan. Sembari mempersiapkan diri untuk aktivitas keesokan harinya. Hehe..
The Island
Sedikit saya bercerita tentang bentuk pulau ini dan isinya..
Bagaimana sih bentuk Pulau Tidung? Well.. pulau ini sangat kecil. Berdasarkan hasil wawancara saya dengan penduduk, di pulau ini tidak ada pasarnya. Penduduk sekitar membeli bahan makanan dari agen-agen. Jadi, mereka tidak perlu tiap hari menyeberang ke Jakarta untuk berbelanja.
Pulau Tidung terbagi dua, besar dan kecil. Perkampungan ada di pulau yang besar. Sementara pulau kecil, yang saya tahu, hanya ada pepehonan dengan luas area yang kecil banget. Dua pulau tersebut dihubungkan oleh jembatan yang cukup panjang. Ada sekitar 1km panjangnya.
Bagaimana dengan kendaraan? Saya hampir tidak melihatnya adanya mobil roda 4 di pulau ini. Jalan-jalan di pulau ini memang sangat kecil dan lebarnya mungkin hanya sekitar 1,5meter. Kendaraan yang banyak digunakan penduduk adalah sepeda manual. Sepeda ini banyak sekali terlihat di rumah-rumah penduduk. Sepertinya sepeda-sepeda tersebut memang menjadi salah satu fasilitas bagi para tamu penginapan. Selain sepeda, juga ada betor alias becak-motor. Betor ini cukup untuk membawa 3 orang penumpang. Dua orang dibagian depan dan 1 orang dibagian belakang, dibonceng oleh pengendara. Sayang sekali saya tidak sempat mengambil fotonya..
Sebagian besar penduduk pulau sepertinya beragama Islam. Soalnya, saya tidak menemukan tempat ibadah lain kecuali masjid. Jumlah masjid di pulau ini cukup banyak. Kurang dari 0,5 km, saya menemukan 3 buah masjid. Salah satu masjid yang saya gunakan untuk melaksanakan sholat berjama'ah adalah masjid besar yang berada di dekat penginapan. Masjid ini masih dalam tahap renovasi.
Satu yang aku kagumi dari pulau ini adalah banyaknya neon box dengan tulisan Asma'ul Husna. Ini gambarnya...
Morning.. Tidung!
Hari pertama di tahun yang baru. Kegiatan yang pertama kali dilakukan adalah... sholat subuh di masjid :D Setelah matahari sedikit naik, menunggu guide yang tak kunjung datang, akhirnya saya dengan adik dan teman pergi bersepeda menuju jembatan cinta. Alhamdulillah kali ini ada 3 sepeda. Jadinya pas deh satu-satu :)
Meski masih pagi tapi sudah banyak orang yang lalu-lalang dengan sepedanya menikmati dinginnya pagi dan hembusan angin yang cukup kencang. Seperti kemarin sore, sesampainya kami di areal pantai dekat jembatan cinta, kami memarkirkan sepeda di areal parkiran. Kali ini kami bertiga ingin menelusuri jembatan cinta sampai menyeberang ke Pulau Tidung yang kecil.
Di sepanjang jembatan cinta, kita bisa melihat terumbu karang dengan melihat menembus air laut yang bening. Di ujung jembatan, kami sampai ke Pulau Tidung kecil. Hanya ada warung kecil semak-semak, serta sedikit pepohonan disana.Oiya, ada satu bagian dari jembatan cinta yang agak tinggi. Seperti gerbang untuk lewat perahu-perahu dibawahnya. Sayang, jembatan cinta ini kurang terawat. Kayu-kayunya sudah banyak yang tidak layak dan terlihat kurang kuat. Teman saya saja sempat agak ragu meneruskan perjalanan di sepanjang jembatan gara-gara ragu sama kekuatan kayunya. Selain itu, ada tangga yang sudah keropos. Wah, harusnya objek pariwisata ini bisa dikelola lebih baik lagi.
Seusai puas menikmati pantai dan jembatannya, kami kembali ke penginapan. Guide sudah menyiapkan tiket pulang kami dengan menggunakan kapal feri cepat. Tiketnya memang lebih mahal daripada kapal yang kami gunakan untuk berangkat. Tapi dengan kapal ini, perjalanan jadi hanya sekitar 2 jam dan tidak perlu merasakan mabok-mabok terhuyung-huyung ombak laut. Haha.. Meski begitu, berkaca pada pengalaman sebelumnya, saya tetap menelan 1 pil antimo biar gak mabuk. Alhamdulillah, saya sampai di muara angke dengan aman karena sepanjang perjalanan pulas tidur terkena efek antimo :D
Petualangan wisata kali cukup seru, menyenangkan, sekaligus menegangkan (efek mabok laut). Kapan-kapan ingin sekali bisa bertualang lagi. Mungkin ke Belitung atau main rafting ya.. ;) hmmm…






