Semakin terpesona oleh damba
Semoga bisa melihatmu lahir dan tumbuh dengan sehat dan sempurna, nak…
Semoga selalu bisa memandang senyummu
Semoga kau bisa menjadi qurrata’ayyun bagi mama dan ayah untuk selamanya
Semoga kita bertiga bisa bergandengan tangan bersama menyusuri pasir pantai
Semoga kau beranjak besar dengan penuh cinta pada penghuni semesta
Semoga kau memiliki semangat berbagi dan kasih sayang terhadap sesama
Semoga kau menjadi anak yang cerdas, ceria dan senantiasa bersemangat menjalani hidup
Semoga kau menjadi perempuan yang shalihah, qonita dan hafidzah
Kabulkanlah ya Allah..
Amiin..
Ini adalah tulisan lama yang tersimpan dalam arsip di laptop saya. Kalau dilihat tanggal pembuatan yang tertera adalah 26 Juni 2009. Cukup lama dan entah ada angin apa tiba-tiba saya ingin membaca ulang tulisan-tulisan lama, khususnya di file yang berisi puisi singkat ini.
Mungkin karena selepas maghrib tadi, saya menangis. Terharu.
Mayya belajar perlahan mengeja huruf-huruf hijjaiyyah yang ada dalam Iqronya. Sungguh, saya bukan tipikal ibu yang terobsesi anaknya mengalami percepatan yang luar biasa dalam fase awal usianya. Mayya meminta ikut mengaji setelah beberapa lama melihat dua orang anak tetangga yang belajar mengaji ke rumah selepas sholat maghrib. Sekecil itu, dia sudah sangat bersemangat mempelajari huruf-huruf dari sebuah kitab yang kelak akan menjadi bekal hidupnya. Duh, buat seorang ibu seperti saya, hanyalah rasa syukur yang kian bertambah di dalam dada. Harapannya tidak hanya saat ini saja dia memiliki kecendrungan yang baik dalam mempelajari Al Qur’an, tapi hingga masa dia dewasa dan bahkan di masa kami sebagai orang tua sudah tidak lagi mengiringi jejak kehidupannya. Doa anak yang sholih tak terputus sampai kapan pun bukan? Dan sesekali Mayya pernah membisikkan sesuatu ke saya, “Mama… Mayya mau kasih mahkota dari cahaya untuk mama dan ayah di surga kelak.”Memang, saya pernah bilang ke Mayya, kalau seorang hafidzhoh (penghapal Al Qur’an) itu bisa memberikan mahkota dari cahaya untuk orang tuanya di syurga. Tapi, tidak menyangka jika pernyataan yang sebenarnya cukup rumit di cerna oleh anak seusia dia, mampu diucapkan kembali dengan makna yang tepat. Kita memang tidak punya kemampuan memastikan masa depan, tapi hanya dengan doa sajalah, saya menyerahkan kepada Allah, agar Allah tetep berkenan menjaga kehanifan seorang Mayya selamanya. Dan semoga saja impian Mayya untuk mempersembahkan Mahkota Cahaya untuk orang tuanya bisa terkabulkan. Amiin ya Robb.
(artikel oleh Yenny Panca Liana)




0 comments:
Post a Comment