Subscribe:

Monday, May 21, 2012

Sahabat Sejati


Sahabat Sejati...

Saat itu sekolah menengah, aku panik saat temanku tidak pulang-pulang ke rumah, aku tidak tahu di mana keberadaannya. Selepas maghrib ia belum juga pulang maka makin paniklah ibunya termasuk juga diriku, kemudian berbekal sepeda butut aku mencarinya. Tahukah teman bagaimana aku mencarimu? Kau pasti tak tahu bahwa saat itu aku terjatuh dari sepeda dan panggulku sakit sekali karena khawatir dengan dirimu yang tidak pulang tapi aku tidak bisa mengatakannya kepada mu bahwa “aku jatuh dari sepeda gara-gara mencarimu,lihat kaki dan panggulku” hingga hari ini karena kurasa tidak perlu kau tahu betapa kalimat itu tidak terlontarkan karena lega telah melihatmu berada di rumah…yang membuatmu menjadi seperti ini hanya karena patah hati….aduhhh!!!!

Saat engkau berada jauh di perantauan, diriku berusaha menjaga apa yang menjadi milikmu. Saat engkau akan pulang dari perantauan betapa gembiranya diriku,aku mempersiapkan segalanya agar engkau nyaman berisirahat di tempat tinggalmu. Lama berselang engkaupun menikah tapi teman aku tidak tahu sebaik apa aku dimatamu, sehingga engkau lebih percaya hal yang buruk tentangku dari pada percaya ketulusanku…dan aku pun menjauh..

Saat aku bertemu dengan engkau yang lain lagi, sahabat kecilku di sekolah menengah pertama, engkau adalah orang yang tidak memiliki apapun yang bisa engkau berikan. Akan tetapi kita selalu tulus berbagi. Aku sadar engkau adalah kepingan puzzle persahabatan yang hampir aku lupakan karena aku merasa dirimu berbeda denganku. Namun aku sangat tahu betapa besar ketulusanmu menjadi sahabatku dan hal itu akan selalu ku simpan dalam ingatanku…aku akan terus mencarimu…


Bertemu lagi dengan sahabat yang lain yang menuduhku dengan kalimat penuh kebencian hanya karena kecerobohanku… Tak banyak pula yang tahu bahwa aku yang panik luar biasa mencari sekantong darah saat kau membutuhkannya, hampir frustasi kami di tengah jalan mencari sekantong darah dan terus menerus berdo’a bahwa engkau bertahan. Dan engkau bertahan teman! Dan sangat bertahan bahkan sempat melontarkan ejekan dan penghinaan untukku….

Kini berselang tahun berlalu aku menemukan teman yang baru…tak tahu akan menjadi apa nantinya, aku hanya berharap bahwa ia mengerti tentang ketulusanku ini…hanya itu…

Jika kita ingin menilai apakah kita bisa mempunyai sahabat sejati dan apakah kita adalah sahabat sejati maka cobalah untuk menyelami hati kita apakah kita tulus berteman padanya atau karena sesuatu….Saat itu akan kita temukan bahwa ketulusan itu akan bisa dinilai saat kita susah dan saat kritis dialah yang paling duluan mengulurkan tangannya…dia hadir untuk membuatmu nyaman denganmu dan memahamimu dengan segala keterbatasan pengetahuannya tentang alam pikirmu…dan ia akan sangat berbahagia jika kau juga berbahagia dan kemudian menjauh sedikit agar engkau bisa menikmati kebahagiaan itu dengan orang yang engkau sayangi, kemudian saat kau ‘terjatuh’ ia selalu hadir memberi semangat, mendekat lebih rapat dan percaya bahwa engkau akan mampu bangkit lagi. Inilah rangkaian sahabat sejati….

Dan percayalah sahabat sejatimu telah ada disisimu sejak dulu…Memaafkan sebesar apapun kesalahan yang telah kau perbuat dan sangat menyambut bahagia saat kau juga berbahagia bahkan merayakannya…Mereka adalah keluargamu, ibumu dan saudara-suadaramu. Maka saat di luar tidak ada yang tulus mencintaimu dan percaya padamu sepenuhnya, maka kembalilah kepada mereka…

(Artikel oleh Sumiyati)

0 comments:

Post a Comment