Ada yang tiba-tiba usil....
Lidah tak bertulang
Tapi hati ada darahnya....
Makanya hati-hati kalo bicara
Saya jadi ingat sebuah kisah favorit saya dengan judul Apel Tuan Peabody karangan Madonna, sebenarnya saya nggak terlalu suka dengan lagu-lagu penyanyi ini tapi ketika membaca bukunya saya suka. "Setiap hari Tuan Peabody, sepulang melatih anak-anak bermain baseball selalu singgah di sebuah toko buah lalu dengan santainya dia mengambil sebutir apel merah segar dan memasukkannya di dalam sakunya. Kejadian ini berlangsung setiap hari dan Tuan Peabody tidak pernah mengeluarkan uang sepeserpun pada si penjual buah.
Hmm... ternyata ada seorang anak yang melihat dan langsung berasumsi Tuan Peabody ini adalah seorang pencuri. Parahnya dia langsung bercerita ke teman-teman satu tim baseballnya dan otomatis akan bercerita ke orang tuanya. Para orang tua pun akan bercerita dengan hebohnya dengan setiap orang yang mereka temui.
Alhasil, setiap orang sekarang melihat sinis pada Tuan Peabody. Anak-anak pun tak ada yang mau diajari baseball oleh Tuan Peabody.
Hanya ada satu anak yang memberanikan diri untuk bertanya pada Tuan Peabody dan kemudian dia diajak menemui si penjual buah dan mendapatkan penjelasan bahwa bapak penjual buah akan mendapatkan uang pembelian apelnya pada hari sabtu ketika dia membeli susu segar dari Tuan Peabody. Anak itu tertegun dan berjanji akan menyampaikannya pada anak yang menyebarkan berita buruk tentang Tuan Peabody.
Akhirnya, anak yang menyebar gosip itu merasa sungguh menyesal akan ulahnya yang buruk dan dia memohon agar Tuan Peabody berkenan memaafkannya. Tuan Peabody hanya tersenyum dan mengajak anak itu pergi ke sebuah lapangan sambil membawa sebuah bantal bulu.
Tuan Peabody menyuruh anak tersebut membuka bantal bulu itu dan dengan segera angin kencang meniup bulu-bulu tersebut berterbangan ke seluruh penjuru desa. Anak itu menjadi bingung, apa maunya Tuan Peabody ini adalah cara untuk memaafkannya? Ternyata tidak…
Tuan Peabody berkata pada anak itu agar dia mengumpulkan seluruh bulu yang sudah berhamburan ke mana-mana. Aha…jelaslah itu tak mungkin, ujar sang anak itu.
Nah, hal itu sama tak mungkinnya kan dengan cara memperbaiki akibat omonganmu yang sudah menyebar di seluruh penduduk desa.
Setelah berkata seperti itu, Tuan Peabody pun berlalu….”
Begitulah kita kan? Hanya dengan dalih dan pembenaran untuk melancarkan pergaulan, kita kadang suka lupa apa yang kita bicarakan itu mungkin sesuatu yang menyakitkan buat orang lain. Bahkan kita sering sekali berghibah (gossip) hanya berbekal sedikit informasi yang kita terima, lantas kita karang-karang sendiri lanjutannya. Parahnya ghibah tersebut disebarkan lagi dan lagi dengan bumbu yang lebih hot. Cerita makin panjang dan seru. Yang belum tentu benar!!!
Padahal Rasul SAW pernah bersabda kalo yang namanya ghibah itu adalah membicarakan orang tanpa sepengetahuannya dan apabila yang dibicarakan itu adalah kebohongan, itu disebut fitnah. Dan bagi yang berghibah saja, sudah dibilang seperti memakan bangkai saudaranya sendiri, apalagi fitnah ya??
Selain itu, coba pikirkan perasaaan orang yang sudah dijadikan bahan ghibah atau fitnah. Bagaimana dia menjalani hari kalo ada saja orang yang sudah berprasangka buruk padanya hanya karena ghibah atau fitnah yang sudah kita sebarkan tentang dia?Atau ada aja persahabatan yang bakal rusak karena lidah kita? Kalo kita bener-bener ga bisa berempati terhadap hal ini, coba deh cari tempat rental hati nurani atau salon detoksifikasi lidah!
Saya pernah baca buku keren karangan Jalaluddin Rahmat, The Road to Allah, nah ada satu bab di sana berjudul, “mengapa kita mudah sekali berghibah?”. Saya merekomendasikan supaya baca buku tersebut, minimal di bab itu aja. Di situ banyak banget dikemukakan alasan mengapa orang suka berghibah seperti Al Ghadhab (kemarahan), Al Hiqd (dendam), kedengkian, hanya untuk bermain-main dan keinginan untuk menaikkan harga diri. Astaghfirullah, mengerikan sekali kan??!!
Anyway, mulai saat ini mari berazzam yuk…untuk menahan lidah kita dari berbicara yang tidak berguna terlebih lagi berbicara hal yang menyakitkan orang lain. Karena lidah pun ada pertanggungjawabannya di alam mahsyar kan?
Wallahu’alam bisshowab
(introspeksi juga buat diri sendiri...)
-ditulis oleh Yenny Panca Liana-
-ditulis oleh Yenny Panca Liana-





Suka suka suka bagaimana calie menulis. Kata-katanya lugas dan to the point. Haha..
ReplyDelete