Subscribe:

Sunday, April 29, 2012

RINDU


Bodhi, RINDU…

Rindu ini tak terjelaskan Bodh. Dia tidak beraga, hanya arwahnya yang bergentayangan, itupun abstrak, hingga dia benar-benar tak terjelaskan.

RINDU Bodhi… RINDU.

Percayalah padaku tentang ini Bodh. Walaupun kau lihat aku masih menyeringai lebar di tengah masa, walaupun kau lihat tidurku nyenyak. Mungkin aku bukan papan wajah yang baik, mungkin aku penyembunyi hati yang baik. Tapi RINDU Bodh, rindu itu ada di setiap sel tubuhku.

Rasa… ini tentang rasa Bodh. Rasa adalah mantera penyembuh sekaligus mantera jahat yang memanusiakan. Maka pertanyaan Dee itu seharusnya terjawab, “Adakah anak bernama Bodhi, yang mencuci setengah tubuhnya cuma untuk bercerita, bersila sempurna dengan tasbih kayu di tangan kiri, adalah manusia?”.

Dan ini adalah RINDU. Rasa saat kau ingin shifu ada di dekatmu, rasa saat bayangan Star mencuri sekian detik denyut jantungmu. Rasa saat raga tak bersisian. Tapi Dee pun kali ini benar, “Kita memang tak pernah tahu apa yang dirindukan sampai sesuatu itu tiba di depan mata. Kita tak pernah menyadari ketidaklengkapan hingga bersua dengan kepingan diri yang tersesat dalam ruang waktu”.

Huh… lihatlah Bodhi. RINDU ini semakin menjadi-jadi menghisap kewarasanku. Ya, dia ada di ambang ketidakjelasan yang nyata-nyata ada,,, bukankah ini gila Bodh? Bukankah gila ketika sesuatu yang lenyap tiba-tiba muncul dan menghisap jiwamu untuk merangkulnya? Bukankah gila sesuatu yang sudah terlalu biasa tiba-tiba berdiri tegak dan menghardikmu untuk berlutut di hadapannya dan kau pun mengiyakan?

Friday, April 20, 2012

Wisata Pulau Tidung (bagian 1)

Persiapan

Akhir tahun 2011, ada tawaran dari teman-teman kantor untuk memanfaatkan liburan tahun baru dengan bertualang ke Pulau Tidung. Setelah memperkirakan bahwa pada tahun baru itu kegiatan perkuliahan telah berakhir, akhirnya saya memutuskan untuk ikut bergabung. Biaya paket perjalanan Rp320.000,00. Biaya tersebut termasuk naik kapal feri Jkt-Tidung PP, penginapan, makan hari-hari, untuk tur Tidung 2 hari 1 malam.

Tanggal 31 Desember 2011 jam 05.30 saya, adik, beserta beberapa teman-teman rombongan sudah bersiap di Pelabuhan Muara Angke. Jarak tempuh yang cukup jauh dari kosan adik saya di daerah Gondangdia ke Angke ini menyebabkan kami harus pergi pagi-pagi sekali setelah subuh agar tidak ketinggalan rombongan. Ongkosnya pakai taksi Bl*e B*rd sekitar Rp80.000,00.

Setelah bertemu dengan 11 orang lainnya anggota rombongan, kami diajak guide tur untuk menaiki kapal yang akan membawa kami menuju Pulau Tidung. Kami melewati beberapa kapal untuk menuju kapal yang kami akan gunakan. Seru banget lho melompat-lompat dari kapal satu ke kapal lainnya..hehe.. Kapal yang kami tumpangi tidaklah besar. Lebarnya sekitar 2,5 meter dan panjang mungkin 12 meter.

Diatas kapal, dilatarbelakangi busur pelangi setelah hujan


Menurut referensi hasil googling yang saya baca, perjalanan menuju Tidung memerlukan waktu 3 jam. Saya dulu pernah naik kapal yang lebih kecil selama 3 jam dari Tarakan ke Nunukan, dengan hantaman ombak dan panas matahari yang cukup terik. Dengan adanya pengalaman tersebut, saya tidak merasakan kekhawatiran ketika menaiki kapal besar ini. Untuk itu saya mencari posisi duduk yang nyaman agar bisa melewati 3 jam tersebut dengan aman. Saya memilih duduk di lantai 2 kapal yang agak luar, agar bisa merasakan angin segar ketimbang duduk dibawah atau diposisi tengah kapal karena takut berdesak-desakan dengan penumpang lain. Oiya, waktu itu cuaca agak mendung. Hujan memang sudah mengguyur Jakarta sejak subuh.


Fakta Ibnu Sina "Famous" Inspiring People

Bismillahirrahmaanirrahim..

FAKTA IBNU SINA " FAMOUS" INSPIRING PEOPLE

“Dokter yang tidak peduli adalah asisten terbaik sang maut” (Ibnu Sina)

Ibnu Sina, memiliki nama panjang Abu Ali Husain ibn Abdullah ibn Sina (sering dilatinkan jadi Avicenna di Barat). Karena besarnya kontribusinya terhadap dunia kedokteran lewat masterpiece-nya, Canon of Medicine, ia dijuluki “Bapak Kedokteran”. Bahkan kalau Anda membaca sendiri Canon of Medicine, Anda akan terkejut betapa banyaknya penyakit modern yang telah dibahas oleh Ibnu Sina beserta metode pengobatannya.

Sepanjang hidupnya, Ibnu Sina telah menulis lebih dari 450 buku dan jurnal. Termometer, aromaterapi, rumah sakit jiwa, dan destilasi uap, adalah beberapa temuan Ibnu Sina yang terpakai hingga sekarang. Tidak seperti kebanyakan ilmuwan sekarang yang fokus ke satu-dua bidang, karya-karya Ibnu Sina mengcover banyak sekali bidang termasuk kimia, fisika, kedokteran, filsafat, sastra, theologi, psikologi, astronomi, geologi, musik, politik, dan engineering.

Kalau Anda mau, Canon of Medicine sudah banyak terjemahannya dalam bahasa Inggris, baik full maupun per chapter. Tapi banyak juga fakta-fakta unik Ibnu Sina dari yang umum hingga yang mungkin jarang diketahui orang lain….

1) Ibnu Sina telah hafal Qur’an di usia 7 tahun. Ia juga telah memahami metafisika dan semua filsafat Aristoteles di umur 8 tahun (kalo di kita sekitar kelas 3 SD…). Di usia ini ia telah berinisiatif sendiri membeli buku tafsir metafisika Aristoteles karya Al-Farabi seharga 3 dirham. Buku itu sangat mempengaruhi hidupnya.

2) Ibnu Sina telah membahas kanker, tumor, diabetes, dan efek placebo pada masterpiece-nya Canon of Medicine. Ia sendiri telah membahas tentang bedah tumor. Teorinya tentang cara penularan TBC sempat ditolak di Barat selama ratusan tahun, namun pada akhirnya diterima kebenarannya setelah mikroskop ditemukan. Demikian pula tentang efek placebo, baru diterima kebenarannya di Barat pada tahun 1960-an. Ia juga telah menyatakan dalam Canon tentang manfaat olahraga untuk menjaga kesehatan.

3) Uji klinis, experimental medicine, uji efektivitas obat, risk factor analysis, adalah beberapa kontribusi Ibnu Sina di bidang farmakologi klinis. Sebelum uji klinis dan kaidah-kaidahnya ditemukan , sebenarnya pada masa Islam obat-obatan dicobakan pada hewan seperti kera, singa, tikus, dan kuda untuk melalui uji kelayakan beredar.

4) Ibnu Sina adalah pelopor psikofisiologi, psikosomatik, dan neuropsikiatri. Ketertarikan ini membuatnya menulis banyak jurnal tentang psikologi dan psikiatri, jauh sebelum Carl Jung dan Sigmund Freud. Beberapa penyakit yang ia bahas di antaranya meliputi halusinasi, insomnia, mania, dementia, dan vertigo.

5) Ibnu Sina sangat percaya bahwa pikiran manusia dapat mempengaruhi kondisi fisiknya. Ia bahkan pernah berpesan pada murid-muridnya, “jangan pernah katakan kepada pasien kalau penyakit mereka tidak bisa diobati. Karena sesungguhnya sugesti kalian juga adalah obat bagi pasien”.

6) Di bidang fisika, Ibnu Sina adalah penemu termometer dan ia selalu menggunakan alat itu di setiap penelitiannya untuk mengukur suhu udara sekitar.

7) Di bidang kimia, Ibnu Sina menemukan teknik destilasi uap untuk mengekstrak minyak atsiri dari herbal dan rempah-rempah. Ia juga menemukan referigerated coil untuk mengkondensasikan uap aromatik, yang merupakan terobosan dalam teknologi destilasi. Karena ini, Ibnu Sina dianggap sebagai pelopor aromaterapi. Salah satu buku kimianya yang paling berpengaruh adalah Liber Aboali Abincine de Anima in Arte Alchemiae.

8) Di bidang mekanika, Ibnu Sina telah menjelaskan teori momentum dan inersia. Dalam percobaannya mengenai penembakan proyektil, ia telah menjelaskan pengaruh gravitasi, gaya awal, dan gesekan proyektil terhadap udara. Teori ini kemudian menginspirasi hukum kedua Newton.

Sebaiknya, Kita Lebih Waspada dengan Lidah Kita

Ada yang tiba-tiba usil....
Lidah tak bertulang
Tapi hati ada darahnya....
Makanya hati-hati kalo bicara

Saya jadi ingat sebuah kisah favorit saya dengan judul Apel Tuan Peabody karangan Madonna, sebenarnya saya nggak terlalu suka dengan lagu-lagu penyanyi ini tapi ketika membaca bukunya saya suka. "Setiap hari Tuan Peabody, sepulang melatih anak-anak bermain baseball selalu singgah di sebuah toko buah lalu dengan santainya dia mengambil sebutir apel merah segar dan memasukkannya di dalam sakunya. Kejadian ini berlangsung setiap hari dan Tuan Peabody tidak pernah mengeluarkan uang sepeserpun pada si penjual buah.

Hmm... ternyata ada seorang anak yang melihat dan langsung berasumsi Tuan Peabody ini adalah seorang pencuri. Parahnya dia langsung bercerita ke teman-teman satu tim baseballnya dan otomatis akan bercerita ke orang tuanya. Para orang tua pun akan bercerita dengan hebohnya dengan setiap orang yang mereka temui.

Alhasil, setiap orang sekarang melihat sinis pada Tuan Peabody. Anak-anak pun tak ada yang mau diajari baseball oleh Tuan Peabody.

Hanya ada satu anak yang memberanikan diri untuk bertanya pada Tuan Peabody dan kemudian dia diajak menemui si penjual buah dan mendapatkan penjelasan bahwa bapak penjual buah akan mendapatkan uang pembelian apelnya pada hari sabtu ketika dia membeli susu segar dari Tuan Peabody. Anak itu tertegun dan berjanji akan menyampaikannya pada anak yang menyebarkan berita buruk tentang Tuan Peabody.

Akhirnya, anak yang menyebar gosip itu merasa sungguh menyesal akan ulahnya yang buruk dan dia memohon agar Tuan Peabody berkenan memaafkannya. Tuan Peabody hanya tersenyum dan mengajak anak itu pergi ke sebuah lapangan sambil membawa sebuah bantal bulu.